Pada hari Rabu, tanggal 20 Mei 2026 bertempat di Karamanoğlu Mehmetbey University Faculty of Economics and Administration Sciences Building telah dilaksanakan kegiatan Public Lecture and Presentation dengan tema “Hegemonic Powers in the New World Order: Indonesia and Türkiye as Emerging Regional Powers”. Adapun yang bertindak sebagai narasumber utama adalah Prof. Dr. Aidul Fitriciada Azhari, S.H., M.Hum selaku Kepala Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta dan dimoderatori oleh Dr. Rahmatullah Ayu Hasmiati, S.Pd., S.H., M.H. dari selaku Direktur Kantor Urusan Internasional dan Kerjasama Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur.
Kegiatan kuliah umum ini dihadiri oleh mahasiswa dan dosen dari Department of International Relations, Karamanoğlu Mehmetbey University serta rombongan dari Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur.
Dalam pelaksanaan kegiatan ini, Prof. Dr. Aidul Fitriciada Azhari, S.H., M.Hum selaku pembicara utama menjelaskan beberapa poin-poin penting berkaitan dengan tema seminar, diantaranya:
- Saat ini posisi hegemoni kekuatan dunia telah bergeser dari kekuatan unipolar menjadi kekuatan multipolar. Yang menandai hal tersebut adalah dengan memudarnya pengaruh Amerika Serikat yang diikuti dengan semakin menguatnya posisi China. Hal tersebut kemudian ditambah lagi dengan pecahnya perang AS/Israel melawan Iran yang juga semakin memperlemah dan memperparah fragmentasi dalam tatanan dunia.
- Dalam hal hegemoni, saat ini juga muncul beberapa aktor-aktor regional sebagai penyeimbang secara regional. Posisi aktor-aktor tersebut adalah sebagai stabilisator kawasan dan aktor kunci dalam Hubungan Internasional. Salah satu diantara aktor-aktor regional tersebut adalah Indonesia dan Turkiye.
- Turkiye, sebagai kekuatan regional memiliki beberapa keunggulan. Yang pertama adalah posisi geopolitik Turkiye yang merupakan persimpangan di antara dua benua. Posisi geopolitik inilah yang menjadikan Turkiye sebagai aktor berpengaruh dalam hal geopolitik dan keamanan regional.
Keunggulan yang kedua adalah posisi Turkiye sebagai anggota NATO, tapi memiliki politik luar negri yang fleksibel dan otonom. Hal tersebut dilakukan Turki dengan cara mempertahankan hubungan baik dengan negara-negara anggota NATO namun juga memperluas hubungan dengan negara-negara yang dianggap rival NATO seperti Rusia dan China. Dengan hubungan yang fleksibel inilah Turkiye sering menjadi mediator dalam konflik-konflik regional seperti konflik Rusia-Ukraina.
Tak hanya itu, keunggulan lain yang membuat Turkiye menjadi kekuatan regional adalah industri pertahanan yang cukup maju utamanya dalam hal industri pesawat nirawak.
- Indonesia, sebagai kekuatan regional memiliki beberapa keunggulan, antara lain:
- Negara dengan ekonomi terbesar di Asia.
- Peran sentral dalam forum ASEAN.
- Politik Luar Negeri bebas aktif.
- Peran strategis di kawasan Indo-Pasifik.
- Kepemimpinan di kawasan Asia-Pasifik.
- Industri Pertahanan yang berkembang.
- Namun, sebagaimana kekuatan regional yang baru muncul, ada beberapa kelemahan atau kerentanan yang sering dialami. Beberapa diantaranya adalah kerentanan ekonomi, polarisasi politik domestik, pembatasan atau limitasi dalam modernisasi militer, dan ketergantungan pada stabilitas ekonomi global.
Khusus dalam hal kerentanan ekonomi, Indonesia dan Turkiye sama-sama rentan terhadap nilai tukar masing-masing yang cenderung melemah, ketergantungan terhadap stabilitas energi global (ada satu konflik serius yang berdampak pada pasokan energi maka akan berdampak pada rantai energi domestik), serta hutang luar negeri.
- Terlepas daripada itu Indonesia dan Turkiye sebagai kekuatan regional berkontribusi positif dalam hal tata kelola dunia melalui diplomasi regional dan keterlibatan dalam forum multilateral.
- Dalam hal perkembangan terkini, utamanya dalam hal kekuatan dunia pasca perang AS/Israel-Iran, Iran akan muncul sebagai kekuatan regional baru dengan penguatan kemampuan ketahanan strategis, kemampuan militer, dan pengaruh geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini kemudian diprediksi akan mempercepat transisi kekuatan hegemonik.